Jumat, 08 Mei 2009

Makna Doa

Pengantar:

Sudah sering rasanya doa-doa kita panjatkan kepada TUHAN, tapi tak jarang kita hanya terpaku pada pengucapan huruf-huruf itu dengan sebaik-baiknya, sehingga hal itu mengabaikan kandungan dari doa itu sendiri.
Bahkan pada gilirannya kita hanya cukup dengan “hanya membaca doa” tanpa pemaknaan yang lebih serius atas setiap doa kita.
Dan agar dalam pemaknaan doa itu tidak kering dari makna terdalamnya, maka kami tuliskan artikel ini. Semoga bermanfaat.


Terlepas dari pahala Doa maupun Efek Jawaban yang dihasilkan oleh doa.

Bahwa doa itu sendiri mengandung aspek ruhani yang sangat luhur, karena dengan Doa yang tidak hanya sekedar pengucapan serta dengan niyat yang telah menjadi satu dengan hati maka Ruhani manusia membumbung menjadi naik, dan hanya pada saat itulah ia memahami arti kesucian dari mutiara kemanusiaannya.
Bahkan lalu ia memahami betapa rendahnya, betapa hina dan aibnya untuk urusan-urusan kecil yang menyibukkan dan mengganggu dia pada saat-saat “lainnya” itu.

Inilah apabila seseorang yang menghayati Doa, bilamana meminta sesuatu kepada selain Allah maka ia akan merasa hina, dina dan aib, namun ketika memohon kepada yang Mahatinggi, ia akan merasakan suatu perasaan kekuatan dan kemuliaan. Oleh karena itu, maka doa adalah pencarian dan sekaligus yang dicari. Para pecinta Allah tidak menyukai sesuatu lainnya lebih daripada doa. Mereka mempercayakan seluruh hasrat dan keinginannya hanya kepada Yang Tercinta yang sesungguhnya.


Jalan dari Hati kepada TUHAN

Setiap orang mempunyai jalan menuju Tuhan dari hatinya. Dalam keadaan-keadaan sulit dan sukar, ketika tidak nampak adanya harapan atau jalan apapun lainnya, bahkan orang yang paling jahat sekalipun akan menyadari dan meminta pertolongan kepada Tuhannya.
Pada saat-saat sulit dan terdesak maka penghalang ini akan tersingkir dan muncul kecenderungan naluri alamiah manusia menjadi hidup dengan sendirinya.
Kecenderungan dan perhatian dalam wujud manusia inilah yang mengarahkan dia kepada Yang Maha Kuasa. Hal inilah merupakan bukti adanya Kekuasaan itu.
Apabila tidak ada kekuatan semacam itu maka tidak akan ada kecenderungan itu.

Tentu saja ada suatu perbedaan antara kecenderungan yang ada dalam wujud suatu pribadi dengan pribadi lain yang telah menyadari dan mengetahui terhadap tujuan dari kesadarannya itu.

Manusia mempunyai kecenderungan untuk mencari Tuhannya untuk berdoa dan memohon kepada Tuhan yang belum pernah dilihatnya. Saat itu, kita berada dalam posisi yang hampir sama seperti si jabang bayi yang mencari tetek ibunya yang belum pernah dilihatnya dan menangis kepada ibunya yang tidak dikenal dan tidak diketahuinya sebelumnya.

Hasrat dan keinginan menyusu yang terdapat pada bayi sejak awal mula kehidupannya. Adalah apabila ia merasa lapar dan timbul kebutuhan itu pada dirinya, maka hasrat dan keinginannya itu dimotivasikan dan membimbingnya untuk mencari puting susu ibunya yang belum pernah dilihatnya sebelum ini, Hal ini tidak dipahami dan tidak dikenalnya. Kecenderungan itu sendiri membimbingnya, mendorongnya untuk membuka mulut mencari makanannya, apabila ia tidak mendapatkannya maka ia pun menangisnya. Menangis itu sendiri adalah meminta pertolongan dari ibunya, “si ibu” yang masih asing baginya dan eksistensinya juga belum disadarinya. Si bayi itu sendiri tidak mengetahui tujuan dan sasaran di balik kecenderungannya dari tangisannya. Ia tidak mengetahui bahwa ia menghendaki makanan. Ia tidak menyadari bahwa sebab tangisannya itu adalah pemberitahuan kepada ibunya, ibu yang tidak dikenalinya itu, tetapi yang secara berangsur-angsur akan dikenalnya, makna tentang lapar dan kebutuhannya itu.

“Sesungguhnya kita adalah dari Allah dan kepada-Nyalah kita akan kembali” (QS 2:156).

“Dan hanya kepada Allah dikembalikan segala urusan” (QS 2:210)

Tentu saja sekiranya dada si ibu dan susu yang sesuai dengan perut si bayi tidak ada, maka nuraninya tidak akan membawa dia ke arah itu. Ada suatu mata rantai hubungan antara nurani ini dan adanya makanan itu. Hal yang sama seperti itu pun berlaku dengan segala macam kecenderungan yang tertanam dalam wujud diri yang TANPA suatu maksud dan tujuan. Sebaliknya segala kecenderungan itu tertanam karena adanya kebutuhan dan pemenuhan atas kebutuhan itu.


Isolasi yang Dipaksakan dan Penyendirian karena Pilihan

Manusia mungkin mencari Tuhan dalam dua situasi.
1.Salah satunya ialah ketika segala jalan dan usaha telah terputus dan dia terlibat kesulitan dan kemudaratan,
2.dan yang lainnya ialah ketika ruhaninya membumbung dan dia memisahkan dirinya sendiri dari jalan-jalan dan sebab-sebab itu.

Pada saat-saat kemudaratan dan ketika ia tidak memperoleh jalan sendiri, manusia secara otomatis bergerak menuju Tuhan, tanpa perlu diminta untuk berbuat demikian.
Namun ini bukanlah suatu penyempurnaan dari jiwa manusia itu sendiri, penyempurnaan dari jiwanya terjadi apabila ia dengan sengaja memutuskan dirinya dari hubungan dengan yang duniawi dan membumbung ke atas (yakni penyendirian karena pilihan -red).


Syarat-sayarat Doa :

Hasrat dan Kebutuhan haruslah sungguh-sungguh dari Hati

Perbuatan berdoa mempunyai persyaratan. Syarat yang pertama ialah bahwa hasrat dan kehendak sesungguhnya muncul dalam eksistensi manusia itu sendiri, sehingga setiap unsur dalam dirinya menjadi manifestasi hasrat dan apa yang dikendakinya menjadi suatu kebutuhan yang mendesak.

Tepat ketika suatu kebutuhan muncul pada suatu bagian dari badan manusia, maka organ-organ dan anggota-anggota badan yang lain mulai bekerja untuk memenuhi kebutuhan itu, bahkan mungkin suatu organ mengurangi sebagian besar kegiatannya karena adanya kebutuhan yang muncul pada bagian tubuh yang lainnya, seperti umpamanya, ketika haus menguasai manusia; efek kehausan itu muncul di pipinya sementara kerongkongannya, hati, perut, bibir dan lidahnya semuanya menyerukan “Air..!”, sehingga seseorang yang tertidur dalam keadaan haus semacam itu pun akan memimpikan “Air”,

Sehingga kebutuhan ruhani manusia itu yang merupakan bagian dari suatu dunia penciptaan adalah sama halnya dalam hubungan dengan seluruh dunia.
Ruhani manusia adalah bagian dari dunia eksistensi, dan apabila suatu hasrat dan keinginan muncul dalam dirinya, sistem yang agung dari dunia penciptaan tidak akan meninggalkannya.

Ada terdapat suatu perbedaan besar antara sekedar mengucapkan doa dan permohonan doa yang sesungguhnya. Hasrat dan kebutuhan haruslah sungguh-sungguh dan sebenar-benarnya muncul dari hati manusia itu.


Iman dan keyakinan akan dikabulkan

Suatu syarat doa lainnya ialah iman dan keyakinan. Iman akan rahman & rahim yang tiada batasnya dari yang MahaEsa, iman bahwa tidak ada rintangan bagi Nya untuk melimpahkan rahmat-Nya, iman bahwa pintu Ridha-Nya tidak pernah tertutup bagi hamba-hamba-Nya dan bahwa kekurangan dan kesalahan terletak pada makhluk.
Telah disebutkan dalam suatu hadis : “Apabila anda berdoa memohon sesuatu, maka anggaplah bahwa apa yang anda hasratkan itu sesungguhnya terletak dibalik pintu.”


Kesesuaian Sistem Penciptaan dan Sunatullah

Suatu persyaratan doa lainnya adalah bahwa doa itu tidak boleh bertentangan dengan sistem penciptaan dan sunnah Illahi. Doa adalah untuk mencari pertolongan dan bantuan agar manusia itu mencapai tujuan-tujuan yang telah dispesifikasikan baginya dalam rangka penciptaan dan dalam sunnatullah yang sejalan dengan hukum dan penciptaan. Apabila doa itu demikian, maka ia mengambil bentuk kebutuhan yang alami dan orang yang berdoa itu ditolong dan dibantu oleh sistem penciptaan, karena keseimbangan dan keharmonisan yang dianugerahkan kepadanya, memberikan rahmat dan kebaikan apabila ada kebutuhan. Namun, sekiranya meminta dan menuntut suatu hal tertentu bertentangan dengan tujuan penciptaan dan sunatullah, seperti umpamanya meminta hidup abadi di dunia ini, maka permintaan semcaram itu bukanlah sesungguhnya doa, dan tidak akan dikabulkan.


Sesuai dengan keadaan Orang yang Berdoa

Suatu persyaratan lainnya ialah bahwa situasi-situasi lainnya dari kehidupan orang yang berdoa itu seharmoni dengan tujuan-tujuan penciptaan dan sunnatullah. Hati harus suci dan bersih, nafkah hidupnya harus diperoleh dengan jalan yang halal dan orang yang berdoa itu tidak boleh berbeban dengan apa yang diperolehnya dari manusia secara haram. Imam Ja’far Ash-Shadiq as mengatakan: “Apabila seseorang di antara kamu menghendaki agar doanya dikabulkan, maka ia harus membersihkan pekerjaannya dan membersihkan dirinya dari apa yang diperolehnya secara tidak halal dari manusia. Karena Allah tidak menerima doa dari seseorang hamba yang mengandung sesuatu yang diperoleh menjadi miliknya dari orang lain secara tidak halal.


Keadaan si Pemohon Bukanlah sebagai akibat Dosanya

Salah satu syarat lainnya lagi ialah bahwa keadaan orang yang berdoa itu, yang diharapkannya akan berubah dan dipulihkan, bukanlah sebagai akibat yang langsung dari pelanggarannya atas tanggungjawabnya. Dengan kata lain, keadaan dari mana si pendoa itu mengharapkan kelepasannya bukan hukuman dan akibat yang logis dari dosa-dosanya; karena apabila demikian halnya maka keadaanya tidak akan berubah sampai dia bertobat dan memperbaiki dirinya. Umpamanya amar makruf nahi mungkar adalah suatu kewajiban. Kesejahteraan dan kerusakan masyarakat sepenuhnya tergantung pada terlaksana atau tidaknya prinsip ini. Konsekuensi yang logis dari sikap mengabaikan amar makruf nahi mungkar ini ialah terbukanya jalan bagi para penjahat untuk menguasai masyarakat.

Apabila orang lalai memenuhi kewajiban ini dan tertimpa akibat yang logis dari dosa kerena kelalaian mereka, kemudian mereka hendak melepaskan diri dari penderitaanya melalui doa, maka hal ini adalah sesuatu yang mustahil. Satu-satunya jalan dalam hal ini ialah bertobat dan kembali lagi pada prinsip amar makruf nahi mungkar dengan segala kemampuannya. Dalam hal ini secara berangsur-angsur mereka akan mencapai tujuannya serta maksud yang didambakannya. “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. (QS:13:11).

Sunnatullah berarti bahwa sementara orang tidak menghendaki untuk mengubah kondisi mereka sendiri dalam hal-hal yang berhubungan dengan mereka, maka Tuhan tidak akan mengubah kondisi-kondisi itu bagi mereka. Dikatakan dalam suatu hadist yang shahih: “Kamu harus menganjurkan kebaikan dan mencegah kemungkaran atau (apabila tidak demikian maka) Allah pasti akan menempatkan kejahatan itu di antara kamu, lalu orang-orang yang baik di antara kamu akan berdoa tetapi doa merea tidak akan dikabulkan”. Sesungguhnya doa seperti itu juga bertentangan dengan sistem penciptaan dan sunnahtullah.

Hal yang sama juga berlaku apabila seorang manusia hanya semata-mata berdoa dan tidak berusaha dengan tindakan. Orang ini pun melakukan sesuatu yang bertentangan dengan sistem penciptaan dan sunnatullah.


Doa Tidak Boleh Dijadikan Pengganti Tindakan

Suatu syarat lain ialah bahwa doa itu haruslah merupakan manifestasi kebutuhan yang sesungguhnya, dalam keadaan dimana manusia tidak mempunyai jalan untuk memperoleh apa yang didambakannya, ketika ia tidak berdaya dan tidak berkemampuan. Apabila Allah telah menganugerahkan kepada manusia kunci bagi kebutuhannya, namun ia menyia-nyiakan rahmat itu dan tidak hendak menggunakan kunci itu lalu memohon kepada Tuhan untuk membuka pintu itu dengan kunci yang telah ada di tangannya sendiri dan membebaskannya dari beban untuk menggunakan kunci itu, maka tentu saja doa semacam itu tidak patut dikabulkan.

Doa-doa seperti itu harus pula dimasukkan dalam kategori doa yang menentang sistem penciptaan. Doa adalah untuk mendapatkan kemampuan dan berdoa ketika Tuhan telah menganugerahkan kemampuan yang dikehendaki itu kepada manusia, samalah halnya dengan berusaha untuk mendapatkan apa yang sesungguhnya telah diperolehnya. Ibarat orang yang duduk-duduk di dalam rumah, tidak mau bekerja dan terus berdoa kepada Tuhan untuk memberikan nafkah kepadanya. Dalam hal-hal seperti ini doa itu tidak ada gunanya dan kosong dari kejiwaan. Hal semacam ini disebutkan disini sebagai contoh untuk saat-saat ketika seorang manusia mampu mencapai tujuan dan maksudnya melalui tindakan, kebijaksanaan dan penalaran pikiran, namun hendak menggantikan tindakan dan usaha dengan doa. Ini tidak benar. Dalam sistem penciptaan, doa bukanlah pengganti usaha dan tindakan, tetapi sebagai pelengkap yang melengkapi usaha dan tindakan.


Nikmatnya Doa

Orang-orang yang menikmati kesenangan berdoa dan membebaskan diri dari segala ciptaan, untuk bergerak ke arah Al-Khaliq (Pencipta), tidak akan mengenal kebahagiaan dan nikmat yang lebih besar dari itu. Bagi orang-orang seperti ini doa mencapai puncak kekuatan, kemuliaan, keluhuran dan berkat. Hal itu meliputi orang yang berdoa itu dalam kelapangan dan ia melihat bahwa suatu keridhaan Illahi yang istimewa meliputi dirinya. Ia menyaksikan akibat dari doanya dikabulkan:Allah, anugerahkanlah kira kepada saya nikmat yang sebaik-baiknya atas apa yang saya keluhkan kepada-Mu, dan karuniakanlah kiranya kepada saya merasakan rasa kemurahan dalam anugerah-Mu atau apa yang saya mohonkan daripada-Mu.

Orang-orang yang bijaksana mengatakan bahwa ada perbedaan antara pengetahuan yang yakin (ilmul yakin), penglihatan yang pasti (ainul yakin) dan kepastian yang sesungguhnya (haqul yakin). Mereka mengajukan contoh sebagai berikut: bayangkanlah akan api; ada saatnya ketika anda melihat akibat dari api. Umpamanya, anda melihat gumpalan asap. Anda tahu bahwa di sana pasti ada api darimana asap itu membumbung ke langit; ini pengetahuan yang pasti, “ilmu Yaqin”. Pada saat lainnya, anda melihat api itu sendiri dari dekat; ini penglihatan yang pasti dan lebih tinggi tarafnya dari “ilmu yaqin”, karena ini berarti penyaksian sendiri secara langsung “ainul yaqin”. Pada saat yang lain anda berada demikian sangat dekatnya kepada api itu sehingga anda merasakan hangat dan panasnya; ini yang disebut “haqul Yakin”.

Manusia mungkin dengan sepenuhnya menyadari akan Tuhan serta percaya dengan mengakui Ada-Nya, tetapi dalam kehidupannya sehari-hari ia tidak berhasil melihat kenikmatan-kenikmatan yang istimewa yang ada saat-saatnya dianugerahkan Tuhan kepada hamba-hamba-Nya. Ini tingkatan yang dinamakan tingkat “ilmu yaqin”. Tetapi ada saat-saatnya ketika ia sesungguhnya menyaksikan efek-efek dari keyakinan dan kepercayaannya. Singkatnya, ia menyaksikan efek-efek Tauhid (Ketuhanan Yang MahaEsa), inilah “ainul yaqin”. Hamba-hamba Allah yang beruntung mencapai tahap ini, yang yakin dan percaya kepada Allah dan menyaksikan efek-efek dari doa-doanya. Mereka merasakan kenikmatan-kenikmatan yang sangat tinggi yang sukar untuk kita bayangkan. Tahap yang lebih tinggi tentunya ialah apabila orang yang berdoa itu melihat dirinya sendiri mempunyai kontak yang langsung dengan Hakekat Illahi. Sesungguhnya ia tidak lagi melihat dirinya sendiri, ia melihat tindakan itu sebagai tindakan-NYA, atribut-atribut itu sebagai atribut-NYA, dan singkatnya, ia melihat Tuhan dalam segala sesuatu.

Apabila seorang manusia mempelajari suatu seni-kerajinan, belajar ilmu pengetahuan dan teknologi, kemudian setelah belajar selama bertahun-tahun dengan sakit dan susahnya, ia melihat untuk pertama kalinya hasil karyanya, dan hasil karya yang didirikan sesuai dengan perhitungannya, maka ia akan merasa senang. Ia merasakan suatu kebanggan dalam dirinya, dan ini merupakan suatu bentuk kenikmatan yang dirasakan apabila seorang manusia melihat hasil usahanya sendiri.

Alahkah bahagianya seorang manusia apabila ia menyaksikan hasil dari imannya..!. Apabila ia melihat kenikmatan yang khusus dari Allah..!. Kehormatan yang dirasakan seorang manusia karena berhasil di dalam jalan Tauhid..!. Sungguh kenikmatan dan kebesaran hati yang dialami dalam keadaan seperti itu adalah seribu kali lebih besar, lebih nikmat, dan lebih manis dibanding dengan keadaan bagaimanapun juga.

Semoga Allah memandang kita sebagai yang patut berdoa dan memohon kepada-Nya untuk menikmati manfaat dari kemajuan ruhani yang suci itu.

Bismillah

Rasulullah saw bersabda, “Semua urusan yang tidak dimulai dengan basmalah, maka urusan itu terputus.” Apa yang dimaksud dengan amal yang terputus? Amal yang terputus adalah amal yang tidak mempunyai ujung, tidak ada tujuannya.Amal yang tidak mempunyai ujung atau tidak mempunyai tujuan adalah amal yang tidak dimulai dengan nama Allah. Sebaliknya, amal yang dimulai dengan nama Allah tidak akan terputus; amal itu akan berakhir dengan nama Allah lagi.
Begitu pula jika amal kita dimulai dengan hamdalah, maka amal itu akan berujung dengan hamdalah pula.

Basmalah adalah kalimat yang benar dan hasan dari segi fi’li. Jika orang melakukan suatu perbuatan baik yang dimulai dengan basmalah, berarti ia menisbahkan fâ’il-nya untuk Allah. Ia menyandarkan pekerjaannya kepada Allah sehingga ia mengubah hasan al-fi’li sekaligus menjadi hasan al-fâ’il.

Jadi, ada perbuatan yang fi’li-nya baik tetapi fâ’il-nya tidak baik, karena tidak berangkat dengan nama Allah. Perbuatan seperti ini dapat dikategorikan terputus atau batal.

Suatu perbuatan harus hasan al-fi’li dan hasan al-fâ’il; masuk dan keluarnya harus benar. Ayat yang mulia ini menjelaskan tentang tujuan amal, yaitu kebenaran. Inilah yang dianjurkan Allah kepada manusia dalam amal sehari-hari: Dan katakanlah: Ya Tuhanku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong. (QS. Al-Isra 80)

Al-Quran menceritakan bagaimana agar tempat keluarnya menjadi tempat yang benar; seperti dalam surat At-Thalaq ayat 2-3: Dan mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik, atau lepaskanlah mereka dengan baik. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu menegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka olehnya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki-Nya). Sesunguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu…

Orang-orang yang masuk dari tempat yang baik dan mengakhiri pada tempat yang baik adalah orang yang digambarkan dalam ayat di atas.

Basmalah berarti kita melakukan suatu perbuatan dengan niat yang ikhlas dengan diiringi nama Allah, agar ketika kita keluar dari tempat itu dalam keadaan baik. Kita memulai perbuatan dengan al-haq agar ujung amal kita keluar dari al-haq pula.

Nama Allah dalam kalimat basmalah adalah nama yang sangat agung yang mencerminkan kesempurnaan. Seperti disebutkan dalam Al-Quran: Mahaagung nama Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan karunia. (QS. Al-Rahmân 78) Allah menjadikan nama-Nya sebagai sumber keberkahan. Allah juga memerintahkan kita untuk mensucikan nama-Nya; jangan sekali-kali mencemarinya. Dalam Al-Quran kita menemukan perintah untuk mensucikan nama-Nya. Allah mempunyai sifat sempurna dan harus dibersihkan dari segala sifat kekurangan: Sucikan nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi (QS. Al-A’la 1)

Ketika turun surat Al-Waqiah ayat 74: Maka bertasbihlah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Mahabesar, Rasulullah saw bersabda, “Jadikanlah pensucian nama itu di dalam ruku’ kamu.” Dan ketika turun surat Al-A’la ayat 1: Sucikanlah nama Tuhanmu yang Mahatinggi, Rasulullah berkata, “Jadikanlah pensucian itu di dalam sujud kamu.”

Ada sebuah riwayat di kalangan ‘irfani yang menyebutkan bahwa kata basmalah yang diucapkan oleh seorang hamba mempunyai kedudukan seperti lafad kun yang diucapkan Allah. Maksudnya, ketika Allah berkehendak dengan sesuatu, Dia hanya berkata Kun, maka jadilah sesuatu itu. (Lihat QS. Yasin 82). Bagi orang yang sudah mencapai maqam tertentu, ucapan basmalahnya akan sama dengan ucapan kun. Jika ia menghendaki sesuatu, terjadilah apa yang diinginkannya.

Sebelum Nabi Nuh pergi meninggalkan kaumnya dengan perahu yang besar, ia berkata, “Bismillâhi majrehâ wa mursâhâ” (QS. Hud 41). Dengan ucapan itu, majulah perahu itu. Perahu itu bergerak dengan nama Allah. Nabi Nuh memberi contoh bagaimana menggerakkan sesuatu dimulai dengan nama Allah, dan bahwa yang dilakukan oleh Nabi Nuh bukan kehendaknya, tetapi kehendak Allah.

Puncak dari perjalanan kepada Allah adalah ketika kehendak seorang hamba sudah bersatu dengan kehendak Allah. Ada beberapa tahap perjalanan menuju Allah. Pertama, ketika seseorang mendahulukan kehendaknya daripada kehendak Allah. Kedua, ketika seseorang mendahulukan kehendak Allah daripada kehendaknya. Jika seseorang sudah mendahulukan kehendak Allah daripada kehendak dirinya, dia tidak dapat membedakan mana kehendak Allah dan kehendak dirinya. Kakinya yang berjalan adalah kaki Allah, matanya yang melihat adalah mata Allah, dan tangannya yang memegang adalah tangan Allah. Dalam hadis Qudsi disebutkan: Jika seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan melakukan amal sunnah, Aku akan menjadi matanya untuk melihat, Aku akan menjadi tangannya untuk menyentuh, dan Aku akan menjadi kakinya untuk berjalan. Dan jika ia berdoa, Aku akan menjawab doanya. Jadi, hamba yang sudah dekat dengan Allah, kehendaknya sudah menjadi kun. Ucapan basmalahnya sama dengan kata kun dari Maula-nya, Allah.

Pada tahap kedua ini kita coba membuang keinginan-keinginan kita; yang ada dalam diri kita hanyalah keinginan Allah. Kita serahkan diri kita untuk Allah tanpa menyisakan sedikit pun kehendak untuk kita.

Ada sebuah cerita di kalangan sufi. Pada suatu hari Junaid Al-Baghdadi mikraj, naik ke langit. Pada perjalanannya, ketika sampai pada langit pertama, ia melihat ada kumpulan malaikat sedang ruku’ dan zikir. Junaid ditanya oleh para malaikat, “Hai Junaid, bergabunglah bersama kami dengan berzikir mensucikan nama Tuhanmu.” Junaid menjawab, “Tidak. Ajakan kalian tidak aku kehendaki.” Lalu ia naik ke tingkat yang kedua. Ia melihat ada kumpulan orang sedang ruku’. Junaid diseru, “Hai Junaid, bergabunglah bersama kami.” Junaid menjawab, “Tidak. Aku tidak ingin bergabung dengan kalian.” Lalu ia naik ke tingkat ketiga. Ia melihat ada sekelompok orang yang sedang sujud. Junaid diseru oleh mereka untuk bergabung. Junaid menjawab, “Aku tidak ingin bergabung denganmu.” Lalu sampailah ia pada suatu tempat yang lebih tinggi, yang disebut Sidhratul Muntahâ. Pada tempat itu, ia mendengar perkataan, “Apa yang kamu kehendaki, wahai Junaid?” Junaid berkata, “Aku berkehendak supaya aku tidak mempunyai kehendak lagi.”

Inilah yang disebut sebagai puncak perjalanan tasawuf. Pada tingkat ini, kalimat basmalah mempunyai kedudukan sama dengan kata kun. Jika orang sudah sampai pada tingkat ini (mendahulukan kehendak Allah), ucapannya adalah sebuah kebenaran.